Wednesday, December 22, 2010

Christmas with Christ: harapan dalam kesesakan

PEGUNUNGAN EFRAIM

Wanita itu bernama Hanah. Telekung yang menghiasi rambutnya tidak menutupi kecantikan pada wajahnya yang membias keluar. Namun wajah itu sirna senyuman dan matanya terlihat kosong. Di sisi kanannya juga berdiri seorang wanita yang tak kalah cantiknya. Namanya Penninah. Bila Hanah diam saja, maka Penninah sibuk sekali bicara seperti seorang supporter dalam sebuah acara lomba makan kerupuk. Sesekali mata Penninah melirik Hanah untuk melihat reaksi wanita itu. Yang tampak hanya sebuah wajah kaku tanpa senyuman, seperti orang mati. Melihat itu senyum Penninah semakin mengembang dan hatinya puas sekali.

Hati Hanah terus menjerit-jerit karena terasa begitu perih mendengar wanita cantik di sampingnya itu terus berceloteh tentang satu per satu anaknya yang berjumlah sepuluh orang itu. Sedang pria di depan mereka, namanya Elkanah, yang adalah suami dari mereka berdua itu sedang sibuk membagikan daging hewan kurban di rumah Tuhan kepada ke sepuluh anak mereka. Sayangnya sepuluh anak itu semuanya adalah anak Penninah. Meskipun Hanah adalah isteri tua, namun dia belum memberikan anak bagi Elkanah. Sehingga bagi Peninnah, setiap tahun ini adalah hari perayaan kemenangannya, sedang bagi Hannah ini selalu menjadi hari penderitaannya.

Setiap tahun acara ini adalah yang paling memberi dilemma bagi Hanah. Di satu sisi ini adalah upacara ungkapan syukur keluarga mereka atas segala berkat yang mereka terima selama satu tahun, namun di sisi lain hatinya tidak tahan menghadapi tingkah laku dari madunya yang selalu dengan sengaja melebih-lebihkan kebanggaan atas kemampuannya melahirkan anak. Setiap kali daging kurban itu diberikan oleh sang suami tercinta pada salah satu dari anak-anak itu, maka wanita cantik itu langsung berceloteh membanggakan kehebatan dari si anak itu sambil menyanjung atau lebih tepatnya menjilat suaminya dengan kalimat , “siapa dulu dong bapaknya!....siapa dulu dong bapaknya...ha ha ha ha...siapa dulu dong...” sambil mengerling manja diiringi tawa menggoda.


Drama ini dari tahun ke tahun selalu digelar dengan pelakon yang sama dan adegan yang itu-itu juga. Pemandangan yang sungguh memuakkan bagi wanita paru baya ini. Ingin rasanya upacara ini cepat selesai dan dia menyingkir dari tempat itu. Yang pasti selama beberapa hari dia akan kehilangan selera untuk melakukan aktifitas apapun, bahkan untuk makanpun dia tidak mau. Semua bayangan penderitaannya terus berkelebat dalam benak dan pikirannya. Bertahun-tahun hatinya tersiksa tiap kali mendengar Penninah hamil dan telinganya terasa mau pecah setiap kali mendengar tawa kegembiraan bercampur kebanggaan dari wanita itu. Maka airmata kesedihan akan terus mengalir. Wanita ini tidak mau berhenti menangis, bahkan ketika dia sudah puas menangispun maka dia akan menangis lagi. Daging kurban yang terbaik dan jumlahnya jauh lebih besar dari sang suamipun tak mampu menghentikan airmatanya. Kata-kata manis dan pelukan dari lelaki yang dicintainya itupun tak mampu menghapus kesesakan dari dalam hatinya. Dia butuh kelepasan dari penderitaan bertahun-tahun. Dan kelepasan itu adalah dengan kehadiran seorang anak, yaitu anak kandungnya sendiri.

Maka Hanah pun berlari ke dalam rumah Tuhan, menumpahkan segala uneg-unegnya di hadapan Tuhan.
Hanyalah Tuhanlah tempat dia berharap.
Hanya Tuhan yang paling mengerti isi hatinya.
Dialah satu-satunya yang mampu membebas hidupnya dari kesesakan dan penderitaan bertahun-tahun ini.

Sampai pada waktunya, ALLAH akhirnya melepaskan Hannah dari kesesakannya.
Wanita inipun akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki.




















PEGUNUNGAN YUDEA

Bangsa Ibrani ketika itu sudah bertahun-tahun kenyang dijajah oleh bangsa-bangsa lain dari waktu ke waktu. Mereka berharap, berdoa, meminta dan percaya bahwa suatu hari akan datang seorang penyelamat, yaitu Mesias yang akan mengeluarkan mereka dari penderitaan dan kesesakan yang mereka alami. Mereka seringkali dipermalukan dan diperlakukan sebagai bangsa rendahan. Maka bagi mereka, kelepasan dari penderitaan penjajahan adalah kerinduan mereka. Setiap orang Ibrani memahami kedatangan Mesias yang akan membebaskan mereka.

Maka penantian itupun usai. Pada waktu Tuhan, ALLAH melalui malakaiat Gabriel meminta ijin seorang perawan agar rahimnya boleh mengandung seorang anak, yang akan menjadi Juruselamat dan Mesias bagi bangsa itu. Anak yang dikandungnya itu kelak akan menjadi Raja di atas segala raja, Tuan di atas segala tuan, dan Allah di atas segala illah.

Maka saat Maria mendengar kalimat konfirmasi nubuatan dari saudaranya, Elizabeth yang juga sedang mengandung, sebuah kidung indahpun tak mampu ditahannya, segera mengalir dari hatinya yang mengumandangkan rasa syukur.


Maria bukan hanya bersyukur bahwa Allah melawat hidupnya, namun wanita perawan mulia ini bersyukur terutama karena Allah melawat umat-Nya. Allah melawat manusia.
Allah mendengar jeritan dan seruan setiap orang yang memanggil nama-Nya dalam pengharapan.
Kidung magnificat bukan hanya mengungkapkan syukur perawan Maria, namun juga ungkapan setiap orang yang dikeluarkan dari kesesakannya:

My heart praises the Lord
My soul is glad because of God my Savior
For he has remembered me, his lowly servant!
From now on all people will call me happy, because of the great things the Mighty God has done for me.
His name is holy


Natal memberi harapan bagi setiap orang bahwa selalu ada pertolongan dari tempat yang Maha Tinggi. Allah selalu peduli pada kesesakan umat-Nya. Sebagaimana Hanah dibebaskan dari 'penjajahan' perlakuan Penninah, maka demikian juga bangsa Ibranipun yang kala itu kenyang dijajah bangsa asing mendapatkan sebuah pengharapan yang besar akan lahirnya seorang Juruselamat. Mesias yang mereka nanti-nantikan dan rindukan itu akan dan sudah datang ke dunia, dan tersembunyi dalam rahim seorang wanita. Rahim perawan Maria.

Dibutuhkan waktu sembilan bulan sebelum Juruselamat itu lahir. Natal juga mengajak kita untuk menghargai setiap kehidupan yang hadir atau akan hadir ke dunia ini dalam janin seorang bayi. Keselamatan dimulai ketika kita menghargai kehidupan. Sebab setiap kehidupan selalu berasal dari ALLAH. Menghancurkan kehidupan terlebih itu adalah janin manusia, berarti kita sedang menuju kematian dan bekerjasama dengan kegelapan. Natal juga mengajak kita untuk menghargai rahim seorang wanita. Dari rahim itulah akan keluar kehidupan yang akan memberkati dunia. Setiap bayi adalah berkat. Setiap bayi adalah rahmat. Berkat dan rahmat dari Surga, dari Sang Pencipta.

Natal memberi harapan kepada kita akan sesuatu yang baru yang segera akan terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, lingkungan , wilayah, paroki, masyarakat dan bangsa kita. Natal memberi harapan bahwa selalu ada Juruselamat yang mampu membebaskan kita dari kesesakan dan penderitaan hidup ini.

Bagian kita dalam perayaan ini adalah bersyukur seperti Hanah dan Maria :

The LORD has filled my heart with joy
How happy I am because of what he has done!
How joyful I am because God has helped me!



Selamat Hari Ibu, para bunda Indonesia!


I love you, mama!









Ilustrations are taken from google images

0 comments: