Thursday, January 20, 2011

SNACK AFTER LUNCH : boomerang

“Saya ini seorang nabi”

Suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang mengatakan demikian tentang dirinya. Maksudnya, dia sering menyampaikan nubuatan-nubuatan dan karena itulah dia menyebut dirinya seorang nabi. Aku sendiri belum pernah mendengar nubuatan yang disampaikannya dalam sebuah kesempatan tertentu ataupun mendengar orang lain menyebut namanya dan mengatakan tentang nubuatannya, apalagi bahwa nubuatannya itu sungguh tergenapi. Kalo pun orang lain mengatakan bahwa dia memang seorang nabi, itu berdasarkan apa yang dikatakan si nabi itu pada orang-orang di sekelilingnya atau dalam pengajaran-pengajarannya.


Kenyataan yang diterima adalah orang ini memang sering menyampaikan kata-kata yang menurut dia didengarnya dari tempat maha tinggi lalu disampaikannya kepada beberapa orang atau kelompoknya. Bila orang lain menerima perkataannya maka dia bersyukur, namun bila orang lain tidak menerima perkataannya maka dia berkata itu urusan orang itu. Bagiannya adalah mendengar Tuhan bicara, menyampaikan dan tugas selesai.

Yang menarik adalah Yesus tidak pernah menyebut dirinya adalah seorang nabi. Juga tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah seorang penyembuh, juruselamat atau penebus manusia . Bahkan tak pernah terlontar dari mulutnya bahwa dia adalah Imam dari Tempat yang Maha tinggi. Mungkin bagi Dia itu bukanlah pokok yang penting dan terutama.


Jesus, then, is the Hight Priest that meets our needs
He is holy; he has no fault or sin in him
He has been set apart from sinners and raised above the heavens


Lalu siapa yang mengatakan semua itu tentang Dia? Kita. manusia.

Kitalah yang memberi dia julukan-julukan tersebut.
Kitalah yang percaya bahwa Dia adalah sang penyembuh, sang juruselamat dan sang penebus.
Kita percaya Dia lah sang imam agung kita di hadapan tahta Allah di Surga, yang menjadi pengantara antara kita dengan Sang Maha Pencipta.
Dia pembela ‘and finisher of our faith’.

Lalu apa yang membuat kita percaya dan memberi dia ‘julukan-julukan’ yang powerful dan mandraguna semacam itu?
Karena apa yang telah dia perbuat selama hidupnya!
Karena apa yang telah Dia perbuat dalam hidup kita!
Karena apa yang dinyatakan Roh-Nya dalam diri kita!

Perbuatannya begitu berbicara dan begitu kuat sehingga baru kemudian kita merenungkan perkataan, ajaran, ucapan dan keyakinan-keyakinannya. Dari perbuatannya melahirkan sebuah kehidupan dan terang bagi hidup kita, dan karena itulah kita tertarik, datang, melihat, dan percaya pada-Nya.
Apa yang dia lakukan telah membuat perbedaan dalam hidup kita.

Kita merasakan dan mengalaminya.
Kita tersentuh dan mau berubah.
Kita percaya dan diselamatkan.
Kita bersukacita dan bercerita tentang Dia dan apa yang telah dilakukannya bagi hidup kita.


And whenever the people who had evil spirits in them saw him, they would fall down before him and scream, “You are the Son of God!”
Jesus sternly ordered the evil spirits not the tell anyone who he was

Kembali pada ucapan orang tadi :
“ Saya ini seorang nabi”

Hmm…masih tetap tidak mengerti apa yang dimaksudnya dengan kalimat itu dan mengapa dia begitu yakin tentang hal itu. Sampai menjadi malu sendiri, karena sering bila orang bertanya tentang pekerjaan , maka jawabanku untuk menyingkat waktu adalah :
“ Saya seorang pewarta”
Hari ini kusadari bahwa pernyataan itu bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri.
Sanggupkan aku membuktikannya dalam hidup sehari-hari?
Apakah perbuatanku bisa menjadi sebuah pewartaan ?
Siapa yang kuwartakan selama ini? Diriku atau sungguh Imam Agung-ku?
Sebuah perjalanan panjang untuk bisa membuktikan semua pertanyaan itu, bahkan mungkin baru terjawab ketika sudah tidak berjalan di bumi ini lagi.

Lord, have mercy..
Christ, have mercy…
Lord, have mercy…

0 comments: