Ini tradisi di rumahku : pembantu rumah tangga hanya bekerja selama tiga jam per hari.
Dan pada hari ke tujuh dia libur. Bila dia datang jam 07.00 maka dia akan pulang jam 10.00. Tugasnya selain mencuci pakaiaan dan membersihkan rumah adalah memasak makan siang. Sedang tugasku selain menyantap hasil masakannya adalah mencuci seluruh peralatan dapur dan piring yang dipakai agar supaya esok hari dia bisa menggunakannnya kembali untuk memasak.
Ketika mencuci tempat rice cooker, ada pertanyaan bodoh keluar dari dalam hatiku. Seiring air keran yang mengucur dan busa sabun cuci piring tersapu dari bagian tempat rice cooker itu, aku berpikir mengapa perlu mencuci tempat ini bila esok akan dipakai dan kotor lagi. Bukan kah hanya membuang tenaga dan waktu saja, sementara esok barang yang sama akan digunakan bagi tujuan yang sama dan bahan yang sama akan digunakan untuk dimasaknya , yaitu beras.
Anda pasti setuju itu sebuah pemikiran yang konyol dan jorok.
Bayangkan bila kita memasak nasi di tempat rice cooker yang tidak pernah dicuci lagi atau bekas dipakai memasak hari sebelumnya. Masih ada sisa nasi menempel di sana atau bahkan sedikit kerak gosong di sana-sini. Mereka yang punya pengalaman memasak nasi pasti mengerti apa yang kumaksudkan. Lalu bila kita tidak mencucinya atau membersihkannya maka bisa dibayangkan nasi seperti apa yang akan kita makan. Membayangkannya saja pasti sudah kehilangan selera makan.
Ini tradisi yang baik : makanlah makanan yang fresh
Merenungkan soal kata “fresh” maka yang muncul pertama dalam pikiran adalah buah-buahan. Segala keuntungan atau vitamin yang bisa diambil dari buah akan kita dapatkan saat dia masih ‘fresh’ dan bukan setelah dia ‘melenyet’ atau bahkan busuk. Selain rasanya masih nikmat dan menyegarkan tenggorokan namun juga seluruh kelimpahan vitamin di dalamnya bisa diserapkan dengan maksimal.
Segala sesuatu yang bersih, segar dan baru perlu dimasukkan atau ditempatkan pada tempat yang juga baru dan bersih. Agar segala tujuan dan maksudnya bisa secara maksimal difungsikan. Ide, gagasan, rencana, impian yang baru perlu ditempatkan pada pola pikir, sikap hati dan tindakan yang baru juga. Sebab bila tidak, maka bila hanya untuk berjalan mungkin masih bisa namun tidak akan mencapai kesempurnaan dalam hasil dan cita rasa.
Pakaian yang baru dibeli atau baru dicuci bila ditempatkan pada lemari yang kotor, berdebu dan banyak ngengat maka suatu hari saat akan dipakai, tentu pakaian tersebut tidak akan se-nyaman atau se-wangi ketika dia pertama kali dimasukkan ke sana. Beruntung bila warnanya tidak berubah atau baunya tidak menyengat. Minimal kita perlu membersihkan isi lemari, mengganti pewangi yang digunakan dan menatanya kembali dengan baik. Begitu juga kita tidak yang menyimpan pakaian yang bersih digabung bersama dengan pakaian kotor, bau dan lembab. Bisa dibayangkan seperti apa isi lemari ktia nantinya.
Demikian juga dengan hidup kita.
Bila kita menginginkan sebuah hidup yang baru maka kita perlu menyiapkan wadah yang baru juga : hati kita. Allah pertama akan bekerja dalam hati kita. Se-dahsyat apapun Allah melakukan maneuver untuk membuat hidup kita baru, bila hati kita tetap keras dan tidak bisa dibentuk maka cepat atau lambat pesona Ilahi akan lenyap atau hanya menjadi sebuah momen menawan atau fenomena menakjubkan yang hanya mampu bekerja sesaat namun setelah itu menjadi sebuah memori indah. Kabar gembiranya adalah Allah setiap hari tetap melakukan maneuver dan memancar-mancarkan pesona-Nya di sana-sini. Tinggal apakah kita bisa melihat, memahami atau menyimpannya dalam hati kita. Hati kita yang baru, bersih, segar dan siap diolah bagi hidup yang baru.
Ada kisah orang muda yang disembuhkan dari sakit telinga yang hampir membuatnya tidak mampu mendengar. Lalu anak ini hadir dalam sebuah acara penyembuhan dan rahmat Tuhan bekerja dalam dirinya sehingga dia mengalami kesembuhan dari sakitnya dan ketika kembali menjalani pemeriksaan dokter, dinyatakan bahwa sakit telinganya benar-benar sembuh. Dia sangat bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhannya. Dia bercerita ke sana ke sini atas apa yang dialaminya. Hanya sayang dia tidak mau melihat mengapa dia bisa sampai sakit telinga.
Penyebabnya adalah gaya hidupnya sendiri. Hampir setiap malam orang muda ini menghabiskan waktu dari satu tempat dugem ke tempat dugem lainnya. Awalnya dia tidak menyadari bahwa suara sound system yang begitu keras, ditambah minuman dan konsumsi obat yang ditenggaknya menyebabkan sistim tertentu dalam tubuhnya terganggu dan menjadi rusak. Namun Allah sungguh baik! Dia memperbaharui kembali dan menyembuhkannya. Sebuah kesempatan yang baru terbentang luas bagi dirinya untuk ditapaki. Hanya sayang hatinya tetap mendua.
Setelah kesembuhannya, orang muda ini tetap melakukan kebiasaan gaya hidup malamnya. Tetap mengunjungi satu tempat dugem bersama teman-teman lamanya, melakukan aktifitas yang biasa mereka lakukan. Bedanya sekarang dia sudah lebih rajin ke gereja dan masih sering bercerita pada teman-temannya tentang kesembuhan yang diterimanya. Sampai suatu hari....dia benar-benar tidak bisa mendengar lagi! Completely deaf.
Apakah Allah menghukum dia? tentu saja tidak.
Dia hanya tidak belajar dari alam dan kehidupan. Tidak punya waktu untuk merenung dan berefleksi tentang tiap makna yang terjadi dalam hidup, bahwa tidak ada yang kebetulan dan tidak ada benar-benar baru di dunia ini.
Andai dia mau berhenti sebentar dan merenungkan kalimat ini :
Ilustration is taken from the image at: www.b2btrade.biz/leads_130647/

0 comments:
Post a Comment