Tuesday, January 18, 2011

SNACK AFTER LUNCH: jangkar cinta

Tidak ada orang yang senang menunggu. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Tapi rupanya menunggu adalah bagian dari perjalanan keselamatan. Bila kita naik pesawat dan para penumpang tidak mau menunggu seluruh proses persiapan keberangkatan sebuah pesawat dan memaksa/mengancam harus berangkat sekarang juga, maka bisa dibayangkan bahwa bahaya sedang menghadang seluruh isi pesawat tersebut.

Dalam memasak kita juga harus menunggu sampai masakan itu siap saji. Dan kita percaya tidak berapa lama lagi akan keluar masakan yang fresh – bukan tersimpan dalam lemari es selama beberapa hari dengan kandungan lemak jenuh yang tinggi – lalu siap kita santap. Ketika kita meminta seorang penjahit menjahitkan bahan pakaian kitapun harus menunggu sesuai dengan waktu yang diberikan. Bila dipaksa harus diambil sekarang juga, maka pakaian itu baru setengah jadi dan penuh dengan keliman serta jarum pentul di sana-sini serta tidak bisa dipakai karena memang waktu penjahitan belum selesai.


God wanted to make it very clear that he would never change his purpose

Demikian juga dalam sikap kita menantikan janji Tuhan digenapi dalam hidup kita : menunggu dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Sikap mental instant tidak berlaku dalam relasi dengan Tuhan karena segala sesuatu di muka bumi ini ada waktunya. Allah takkan pernah berubah. Janji-Nya pun tetap. Rencana-Nya pun selalu sama : menyelamatkan dan memberkati kita.

Namun bila fenomena yang terjadi adalah menjadi lebih terfokus pada janji-janji Allah daripada Allah sendiri, maka ini perlu direnungkan kembali. Jangan sampai kita berusaha menjadi baik karena ingin mendapatkan janji Allah. Kita melakukan perintah Allah karena berharap Dia memberkati kita.

Apakah ini salah ?
Sama sekali tidak tentu saja.

Hanya bila kita berhenti dengan menjadi baik atau berbuat baik demi mengharapkan ‘upah’ dari Surga, maka apa bedanya kita dengan doggie atau lumba-lumba yang dilatih untuk melakukan ini dan itu oleh pelatihnya, demi mengharapkan sebuah permen atau iming-iming ? Lalu bila ‘iming-iming’ itu tidak kita dapatkan maka kesempatan berikutnya tidak mau lagi melakukan apa yang diminta oleh sang pelatih tersebut karena terluka, kehilangan kepercayaan dan merasa dibohongi.

Inikah sikap relasi kita dengan Allah ?
Seperti antara binatang dengan pelatihnya ?
Tentu kita perlu melakukan harus lebih tinggi dari itu.


We have this hope as an anchor for our lives

Rahasianya terletak pada relasi. Relasi antara manusia dengan Allah. Sebuah relasi yang begitu mendalam dan mengakar seperti jangkar. Sehingga meskipun ada angin, badai atau terjangan ombak, namun kapal itu tetap tidak pergi jauh dari lokasi perhentiannya karena jangkar itu selalu bisa kembali menarik dia pada posisi semula. Jangkar itu adalah cinta dan kapal itu adalah kita.

Relasi yang didasarkan atas iman, kepercayaan yang begitu mengakar akan Allah. Relasi yang mengatasi segala peraturan, hukum atau bahkan janji-janji yang belum ditepati. Relasi yang dalam antara dua pribadi yang meskipun salah satu mengingkari janjinya namun mereka masih tetap saling mencintai. Relasi yang meskipun salah satu melanggar peraturan yang ada namun pihak yang lain akan memahami dan menerima. Karena selalu ada cinta di antara mereka sebagai jangkar.

Apakah ‘jangkar’ relasi kita dengan Allah dan sesama ?
Peraturan-peraturan?
Janji-janji ?
Berkat-berkat?
Atau cinta ?



The Son of Man is Lord of the Sabbath

0 comments: